Read in | English | Español | Français | Deutsch | Português | Italiano | 日本語 | 한국어 | 简体中文 | 繁體中文 | العربية | Nederlands | Ελληνικά | עִבְרִית | Bahasa | Русский | Svenska | Polski

Gejala fisik seperti mual dan sesak napas, dapat memprediksi kelangsungan hidup lebih pendek untuk pasien dengan kanker terminal

Published on July 26, 2004 at 8:53 AM · No Comments

Gejala fisik yang mempengaruhi kualitas hidup, seperti mual dan sesak napas, dapat memprediksi kelangsungan hidup lebih pendek untuk pasien dengan kanker terminal.

Sebuah studi baru yang diterbitkan 26 Juli 2004 dalam edisi online KANKER, sebuah jurnal peer-review dari American Cancer Society , menemukan gejala-gejala pasien dan hasil penilaian kualitas hidup dapat memberikan petunjuk penting untuk prognosis pasien individu. Faktor psikososial, seperti kecemasan atau distress spiritual, tidak memprediksi kelangsungan hidup lebih pendek.

Dalam rangka memberikan pilihan pengobatan yang paling tepat untuk pasien kanker yang baru didiagnosis, dokter sering menilai kualitas kesehatan yang berhubungan pasien hidup (HRQOL), bersama dengan karakteristik tumor yang memprediksi agresivitas penyakit dan, akhirnya, hasil (yaitu, respon tingkat untuk perawatan, kelangsungan hidup secara keseluruhan, waktu untuk kemajuan, dan kelangsungan hidup dalam tahun). Di bidang perawatan paliatif, panjang kelangsungan hidup dan kualitas hidup adalah hal yang terpenting. Penelitian telah menunjukkan bahwa faktor-faktor klinis dan karakteristik tumor memprediksi kelangsungan hidup pada pasien kanker terminal, tetapi ada data yang terbatas pada nilai prediktif tindakan HRQOL, seperti gejala fisik dan psikologis. Penelitian yang ada menunjukkan bahwa gejala fisik, gejala tidak psikososial, memprediksi panjang untuk bertahan hidup. Namun, kesimpulan dari studi ini dilemahkan oleh kekurangan metodologis.