Dengan menggabungkan kuantum dot dengan pembawa novel dengan pencitraan resonansi magnetik (MRI) agen gadolinium, sebuah tim peneliti di University of Maastricht, di Belanda, telah mengembangkan nanopartikel yang bisa melihat apoptosis, atau sel mati terprogram, menggunakan kedua MRI dan pencitraan fluoresensi.
Pengujian pada hewan menunjukkan bahwa nanopartikel ini dapat memberikan informasi anatomi menggunakan informasi tingkat MRI dan seluler menggunakan pencitraan fluoresensi. Pencitraan kematian sel terprogram di dalam tubuh bisa memberikan indikasi awal bahwa terapi antitumor memang membunuh sel kanker.
Melaporkan hasil kerja dalam jurnal Nano Letters, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Dick Slaaf, Ph.D., Marc van Zandvoort, Ph.D., dan Chris Reutelingsperger, Ph.D., pertama kali dikembangkan struktur molekul biokompatibel mampu mengikat kuat sampai delapan atom gadolinium, dan kemudian dihubungkan beberapa operator masing-masing kuantum dot neon. Para peneliti juga dilampirkan satu molekul Annexin A5, molekul yang mengikat ke permukaan sel yang mengalami apoptosis. Nanopartikel yang dihasilkan mengandung atom gadolinium cukup untuk menghasilkan sinyal MRI yang kuat yang akan terdeteksi bahkan jika hanya beberapa nanopartikel mampu mengikat sel apoptosis.
Untuk menguji kemampuan pencitraan nanopartikel ini, para peneliti ditambahkan ke sel dipicu untuk memulai apoptosis. Selama tahap awal apoptosis, para peneliti mampu mendeteksi patch kecil fluoresensi hijau pada membran sel. Sebagai apoptosis melanjutkan, patch ini hijau tersebar di seluruh membran sel.